KARAWANG, Cyberliputan6.com-
Tanpa pengalaman, hanya berbekal harapan, aku pernah duduk sendiri, membayangkan seperti apa rasanya menjadi seorang jurnalis. Bukan karena aku punya ambisi besar, atau mimpi yang sejak kecil kupupuk. Tidak. Keinginan itu hadir karena satu hal yang sangat manusiawi, kebutuhan untuk tetap merasa hidup, tetap merasa berguna, di usia yang tak lagi muda. Usia di mana surat lamaran kerap tak berbalas, karena dunia kerja lebih memilih mereka yang muda, segar, dan baru lulus.
Aku telah mencoba berbagai jalan. Mengetuk pintu-pintu yang sunyi. Tapi pada akhirnya, Tuhan menuntunku ke dunia yang tak pernah terbayang sebelumnya, jurnalistik. Dunia yang asing, penuh tantangan, tetapi perlahan menjadi bagian dari nadiku, dari hidupku.
Langkah pertama kutapaki saat bergabung dengan sebuah media online GELAR NEWS.com Setahun penuh aku belajar dari nol. Menulis berita, menyunting, membangun relasi, memahami betapa cepat dan keras ritme dunia ini. Di sana aku jatuh bangun, berkali-kali merasa tak sanggup, tapi terus bertahan. Lalu aku melangkah ke media cetak surat kabar MERDEKA 45 kembali belajar, kembali merangkak. Dua tahun perjuangan itu menjadi pondasi yang tak tergantikan, membentuk aku, membentuk jiwaku.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lalu semesta mempertemukanku dengan masa lalu, teman SMA yang tak sengaja kutemui di grup WhatsApp. Ia kini seorang jurnalis nasional di Jakarta. Kami mengobrol, berbagi cerita, lalu sebuah ide besar lahir dari percakapan sederhana itu. Kami sepakat berkolaborasi, menjembatani suara dari daerah hingga pusat. Dari sinilah KOMPAS86.com lahir, media online yang dibangun dari nol, dengan cinta dan semangat bersama.
Waktu berlari. KOMPAS86.com tumbuh, bukan hanya sebagai media, tapi sebagai rumah. Rumah bagi jurnalis-jurnalis muda dari seluruh penjuru negeri. Tapi seperti sungai yang akhirnya memilih muaranya masing-masing, kami pun memutuskan berjalan di jalur berbeda. Bukan karena pecah, bukan karena luka, tapi karena visi yang berkembang. Karena kami ingin lebih luas, lebih bebas, lebih lepas.
Dengan semangat yang sama, aku pun mendirikan MEDIALIPUTAN6.com, sebuah media yang kutata sendiri, dengan peluh dan keyakinan yang tak pernah padam. Meski kini tak lagi di kapal yang sama, hubungan kami tetap hangat. Kami masih satu dalam semangat kolaborasi, melalui PT INDONESIA MONITORING NEWS, sebuah ruang di mana kami masih saling menguatkan, meski dari arah yang berbeda.
Perjalanan ini bukan tentang menjadi hebat. Tapi tentang bertahan. Tentang berani memulai saat yang lain ragu. Tentang tetap berjalan saat yang lain memilih berhenti. Aku belajar bahwa di usia berapa pun, meski jalan terasa sepi dan berat, tak ada yang mustahil selama kita punya harapan. Karena terkadang, yang kita butuhkan untuk memulai, bukanlah pengalaman, tapi keyakinan bahwa kita bisa.
[ Red ]


















