Bandung,JaBAR, Cyberliputan6.com-
Dalam catatan sejarah Nusantara, kuda putih bukan sekadar hewan tunggangan. Ia adalah lambang suci, penanda kemenangan, dan simbol kebesaran. Di punggung kuda putih, para pemimpin masa lalu menegaskan kewibawaan, menggerakkan rakyat, dan menorehkan kejayaan.
Hari ini, filosofi itu kembali bergaung.
Tatkala Bupati Bandung, Kang DS, tampil dengan busana adat Tatar Ukur, ia seakan menghidupkan kembali pesan leluhur: bahwa kepemimpinan sejati harus bersih dalam niat, berani menghadapi tantangan, dan setia pada pengabdian.
Kuda putih mengingatkan kita,
bahwa kebesaran seorang pemimpin tidak diukur dari kursi yang ia duduki,
melainkan dari kejernihan hati yang ia bawa,
dari komitmen yang tak tergoyahkan,
dan dari ketulusan yang tercurah bagi rakyatnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesucian, kemenangan, dan kebesaran—itulah warisan filosofi kuda putih.
Dan di tangan pemimpin masa kini, makna itu menunggu untuk benar-benar diwujudkan.
Suara kagum warga pun turut terdengar.
Seorang ibu rumah tangga, Ibu Tati (45), berkata:
“Melihat Kang DS tampil dengan busana adat, saya merasakan aura wibawa yang besar. Seperti pemimpin masa lalu yang gagah menunggang kuda putih. Kami bangga punya pemimpin yang tidak melupakan akar budaya, tapi juga membawa semangat untuk masa depan.”
Dari kalangan pemuda, Rizky (23) menambahkan:
“Figur pemimpin yang berani menampilkan simbol budaya seperti ini memberi inspirasi bagi generasi muda. Kami belajar bahwa menjadi pemimpin itu bukan hanya soal jabatan, tapi juga tentang menjaga tradisi dan membawa nilai kebaikan.”
Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Bapak H. Rahmat, mengungkapkan:
“Filosofi kuda putih ini sangat tepat. Pemimpin memang harus suci dalam niat, berani menghadapi tantangan, dan membawa kemenangan untuk rakyatnya. Kami berharap Kang DS bisa terus menghidupkan nilai itu dalam kebijakan dan tindakan nyata.”
Reporter: Rudi.S


















