Bandung, Cyberliputan6.com-
Dalam kehidupan, jalan yang kita tempuh tidak selalu lurus dan mulus. Kadang harus berbelok, kadang menepi, terkadang melewati tanjakan, turunan, naik dan turun, seperti jarum jam yang terus berputar.
Sebagai makhluk dengan kemampuan terbatas, tak jarang kita membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hati. Bisa kepada teman lama, sahabat, saudara, atau bahkan orang yang baru kita kenal. Namun, jangan pernah berharap bahwa curhat itu selalu berbuah kebaikan. Bisa saja, bukannya mendapatkan bunga, justru batu yang kita terima, atau bahkan tanpa balasan sama sekali.
Awalnya, curhat lahir dari pikiran bahwa orang yang mendengarkan dapat meringankan beban kita, menjadi jembatan solusi atas masalah yang kita hadapi. Namun, jika salah tempat, bukannya ketenangan yang kita dapatkan, melainkan masalah baru yang justru menambah luka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang guru pernah berkata:
“Saat dirimu jatuh, jangan sembarangan curhat kepada siapapun. Sebab, tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa merasakan apa yang sedang engkau rasakan.”
Orang bijak pun mengingatkan:
“Jika kamu curhat kepada manusia, lalu dia orang baik, maka dia akan mendengarkan bahkan menolongmu. Tetapi jika hatinya dengki, maka itu akan menjadi kesempatan untuk menjatuhkanmu.”
Maka, sah-sah saja curhat kepada orang lain, namun belajarlah dari pengalaman agar tidak salah memilih tempat mencurahkan hati. Salah curhat justru menambah masalah.
Pelajaran penting bisa kita ambil dari Nabi Ya’qub alaihissalam. Ketika beliau menghadapi kesedihan mendalam karena kehilangan putranya, Yusuf, anak-anaknya justru mengira ia akan semakin larut dalam duka. Namun dengarlah perkataannya yang abadi dalam Al-Qur’an:
Dia (Ya’qub) menjawab: ‘Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.’”
(QS. Yusuf: 86)
Inilah teladan bagi kita. Curhat kepada manusia tidak salah, tetapi harus sangat berhati-hati. Jika salah orang, sakit hati yang kita terima. Namun, anugerah terbesar dari Allah adalah ketika di saat kita kesulitan, Ia pertemukan kita dengan orang yang benar-benar memahami tanpa kita harus banyak berkata.
Dan itu hanya bisa terjadi melalui satu jalan: doa kepada-Nya.
Semoga Allah senantiasa memberi kita kesabaran. Kadang, Dia pertemukan kita dengan orang yang salah terlebih dahulu, sebelum akhirnya mempertemukan kita dengan orang yang tepat.
Wallahu a’lam.
Penulis hanyalah al-Faqir.
Semoga panjang umur, sehat selalu, bahagia, dan ditaburi rahmat Allah.
Reporter: H.Mumu


















