Cyberliputan6.com-
Innalillahi… Telah mati hati nurani sebagian pejabat negeri yang mengaku mewakili rakyat. Fenomena ini terlihat jelas ketika kursi empuk dan kepentingan pribadi lebih diprioritaskan daripada suara rakyat yang seharusnya mereka bela. Saat itulah kepercayaan publik runtuh.
Lembaga legislatif, khususnya DPR, sejatinya hadir untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Namun dalam praktiknya, yang sering muncul adalah keberpihakan pada kepentingan tertentu. Janji-janji politik yang diucapkan saat kampanye hanya meninggalkan rasa pahit ketika mereka sudah berkuasa.
Rakyat memilih dengan penuh harapan, namun balasannya justru kekecewaan. Mereka memang tercatat di atas kertas sebagai wakil rakyat, tetapi di lapangan pertanyaan besar selalu menggema: “Mereka sebenarnya wakil siapa?”
Gaji yang tinggi diterima tanpa persetujuan rakyat. Sementara rakyat sendiri justru diperas, bahkan nyawa dikorbankan demi kepentingan segelintir orang. Jika DPR sudah tidak lagi mewakili rakyat, maka tidak ada satu rupiah pun dari gaji mereka yang bernilai halal.
Tuhan Maha Adil. Setiap kelalaian dan pengkhianatan terhadap amanah rakyat akan dibalas dengan sebaik-baiknya pembalasan. Demokrasi pun kehilangan maknanya ketika suara rakyat diperdagangkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dan saat itulah rakyat akan menunjukkan taringnya. Sebab pada hakikatnya, pemegang kedaulatan tertinggi negara ini adalah rakyat itu sendiri.
Suara rakyat adalah suara Tuhan. Tolong dengar, dan sampaikan.
( Rudi S )


















