
Bandung Barat | CYBERLIPUTAN6.com-Gemuruh sorak penonton dan semangat para peternak menyatu di Pamidangan BBS De Landen, kawasan Lembang, saat Kontes Seni Ketangkasan Domba Garut bertajuk “Piala Ayam Ningrat Vol. I” digelar pada 25–26 April 2026. Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang adu kualitas ternak, tetapi juga mempertegas eksistensi warisan budaya Sunda yang terus hidup di tengah masyarakat modern.
Sejak pagi hari, arena sudah dipadati pengunjung dari berbagai daerah di Jawa Barat. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan pertandingan, tetapi juga merasakan atmosfer khas yang memadukan tradisi, hiburan, dan aktivitas ekonomi rakyat.
Kontes ini menghadirkan persaingan ketat antarpeternak dengan total hadiah yang tergolong fantastis. Satu unit mobil menjadi hadiah utama kategori Best of The Best, disusul sepeda motor untuk juara di tiap kelas, serta puluhan hadiah lainnya seperti sepeda listrik dan peralatan elektronik rumah tangga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Skala hadiah tersebut menunjukkan bahwa seni ketangkasan domba Garut kini telah berkembang menjadi industri berbasis budaya dengan nilai ekonomi tinggi.
Salah satu peserta, H. Deden Mulyana dari Padepokan Mustika Jaya, Ciwidey, menilai bahwa kegiatan ini memiliki dampak luas, bukan hanya bagi peternak tetapi juga masyarakat sekitar.
“Ajang ini bukan sekadar lomba. Ini bagian dari menjaga tradisi sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Banyak masyarakat yang ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Menurutnya, setiap gelaran seperti ini selalu diikuti geliat ekonomi yang signifikan. Pedagang makanan, penjual pakaian, hingga pelaku usaha aksesori domba bermunculan di sekitar lokasi. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa kegiatan budaya mampu menciptakan ruang ekonomi baru yang nyata.
Tak hanya itu, nilai jual domba Garut juga terus meningkat seiring popularitas ajang ketangkasan. Domba yang sebelumnya bernilai jutaan rupiah kini bisa menembus harga puluhan hingga ratusan juta, terutama jika memiliki rekam jejak kemenangan.
Dalam kompetisi ini, Padepokan Mustika Jaya menurunkan 21 ekor domba yang berlaga di kelas A, B, dan C berdasarkan bobot. Setiap domba telah melalui proses perawatan intensif, mulai dari pola pakan khusus, latihan fisik, hingga perawatan tubuh layaknya atlet profesional.
Penilaian dalam kontes pun dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik. Aspek kesehatan, teknik bertanding, bentuk tanduk, postur tubuh, hingga penampilan menjadi faktor penting dalam menentukan pemenang.
Deden juga menegaskan bahwa seni ketangkasan domba Garut jauh dari praktik negatif seperti perjudian.
“Semua murni penilaian juri. Tidak ada unsur taruhan. Ini benar-benar seni dan olahraga tradisional,” tegasnya.
Ia berharap kegiatan seperti ” Piala Ayam Ningrat Vol. I” terus digelar secara konsisten, karena selain menjaga budaya, juga terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan peternak dan masyarakat sekitar.
Dengan partisipasi dari berbagai daerah seperti Cianjur, Pangandaran, Indramayu, dan Majalengka, ajang ini semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu event budaya terbesar di Jawa Barat yang memadukan tradisi, prestasi, dan potensi ekonomi dalam satu panggung.
Reporter: Rudi Setiawan

















