Cyberliputan6.com – Dalam ajaran Islam, beriman kepada takdir merupakan hal yang tidak bisa ditawar. Sebab, percaya pada takdir termasuk salah satu dari enam rukun iman yang wajib diyakini setiap Muslim.
Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan takdir? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), takdir adalah ketetapan atau ketentuan Tuhan. Artinya, beriman kepada takdir berarti mempercayai bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu dengan kodrat, iradat, serta hikmah-Nya, Jumat/12/September/2025.
Perbedaan Pandangan Ulama
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejarah mencatat, pemahaman tentang takdir memunculkan perbedaan di kalangan ulama. Dari perbedaan itu lahirlah dua aliran teologi besar.
Pertama, Jabariyah, yang meyakini manusia tidak memiliki kehendak bebas. Segala sesuatu yang terjadi semata-mata merupakan kehendak Allah, sehingga hidup dianggap sudah sepenuhnya ditentukan.
Sebaliknya, Qadariyah berpendapat bahwa Allah memberikan kebebasan penuh kepada manusia. Segala perbuatan merupakan hasil usaha manusia itu sendiri, tanpa campur tangan Allah.
Pandangan Cak Nur tentang Takdir
Cendekiawan Muslim almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) menegaskan bahwa rujukan utama tentang takdir ada dalam Al-Qur’an. Ia merujuk pada firman Allah dalam QS. Al-Hadid ayat 22–23, yang menyebutkan bahwa segala sesuatu telah tercatat dalam kitab sebelum terjadi, agar manusia tidak berduka berlebihan saat kehilangan, dan tidak terlalu bangga ketika mendapat nikmat.
Ayat 22:
Arab: مَآ أَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ فِيۡ الۡاَرۡضِ وَلَا فِيۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اِلَّا فِيۡ كِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡرَاَهَا ؕ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيۡرٌ ۚ
Latin: Mā aṣāba min muṣībatin fīl-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābimm min qabli an nabra’ahā, inna ḏālika ‘alallāhi yasīr.
Terjemahan: Tidak ada bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ) sebelum Kami menciptakannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.
Ayat 23:
Arab: لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡا عَلَىٰ مَا فَا تَقُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ آتٰـٰكُمۡ ؕ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرٍ
Latin: Līkaylā ta’saw ‘alā mā fatakwam wa lā tafraḥū bimā ātakum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr.
Terjemahan: (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu tidak bersedih hati atas apa yang luput (terjadi) darimu dan tidak pula terlalu bergembira atas apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.
Menurut Cak Nur, ajaran tentang takdir sesungguhnya mengajarkan keseimbangan.
Jangan berputus asa ketika gagal.
Jangan sombong ketika berhasil.
Takdir dan Ikhtiar
Hakikat takdir adalah segala sesuatu yang telah terjadi dalam hidup. Adapun hal yang belum terjadi, manusia diperintahkan untuk berusaha dan berikhtiar.
Syekh Tosun Bayrak al-Jerrahi pernah berkata, “Ketahuilah, takdirmu sedang berlangsung dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Jangan khawatir atas apa yang akan datang, dan jangan sesali apa yang telah berlalu. Sebab penyesalan tak akan mengubah apa pun. Terimalah dengan lapang hati, niscaya engkau akan diberi keridhaan dan kedamaian.”
Menemukan Ketenangan
Pada akhirnya, memahami takdir membuat seorang Muslim mampu menjalani hidup dengan hati yang tenang. Tidak larut dalam kesedihan, tidak pula terjebak dalam kesombongan.
Dengan kesadaran itu, setiap Muslim diajak untuk terus berusaha, berdoa, dan bertawakal, karena takdir Allah selalu mengandung hikmah.
Wallahu a’lam.
Selamat menunaikan ibadah Jumat. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kebahagiaan, kedamaian, dan umur yang penuh berkah.
Reporter: H.Mumu

















